Langsung ke konten utama

Menjaga Kewarasan Seorang Ibu itu Penting



Dear Teman.....πŸ’¦ 

Sadis, kejam, tega, gila adalah sebagian kosa kata yang spontan terucap untuk menunjuk sikap seorang ibu yang membunuh anak kandungnya sendiri. 

Kok bisa?

Marah kepada siapa? 

Putus asa karena apa?

Motif terkuatnya sebenarnya apa?

Tujuan akhirnya untuk apa?

Apa kaitannya dengan kesejahteraan mental?

Adakah hubungan dengan sejarah masa lalunya?

Adakah luka pengasuhan yang dialami dan membekas hingga kini?

Apa saja pelajaran berharga yang kita bisa ambil?

Rangkaian pertanyaan ini mari bersama kita diskusikan agar kita tidak hanya sibuk menjadi penonton tetapi terlupa bagaimana mengambil peran sebagai pengimbang rasa dan pemberi solusi. Bagaimanapun menyalahkan itu memang mudah. Bersama menjaga supaya tidak terulang akan lebih indah.πŸ™πŸ˜Š

Subhanallah, kisah ibu membunuh anaknya karena depresi dan baby blues itu tidak satu atau dua cerita, bahkan salah satu dari ibu yang membunuh itu adalah orang yang kelihatannya baik-baik saja.

Mirisnya, lisan kita begitu mudah menghakimi, padahal tak tahu betapa peliknya masalah yang ia tanggung dan hadapi.

Support system yang terbaik adalah keluarganya. Tetapi jika keluarganya saja mematahkannya? Lalu circle pertemanan yang tidak mendukung, karena memang ia tak memilikinya??

Jangan men-judge. Jika kita tak membantu untuk memecahkan masalahnya, setidaknya peduli dengan cukup jadi pendengarnya yang baik. Peluk dan biarkan dia menangis dipelukan kita dan mengeluarkan semua sesak di dadanya.



Sejujurnya saya sepakat bahwa penyebab seseorang mengalami depresi dan cemas berkepanjangan itu dirinya sedang lemah iman. Memang sifat iman itu naik dan turun, siapa pun kita. Hanya saja tolong diingat, bukanlah depresi itu karena lemah iman semata. 

Penyebab lainnya adalah ia belum memiliki literasi emosi. Ia belum memiliki ilmu mengelola ragam emosi destruktif (seperti sedih, takut atau marah) ketika sedang menghadapi kerasnya benturan kehidupan. 

Memang begitu miris. Ilmu mengelola emosi itu ilmu kehidupan yang sangat vital, tetapi justru yang paling minim dipersiapkan. 

Baiklah, saya mencoba mengupas sedikit tentang emosi berdasarkan beberapa literatur.

❤Apa emosi dan kebutuhan emosi di balik orang depresi?

Sedih adalah jenis emosi utama yang dirasakan seseorang yang mengalami depresi. Kebutuhan emosinya? Didengarkan, ditemani, dikuatkan, dipeluk, dibesarkan hatinya, dll.

❤Apa emosi dan kebutuhan emosi di balik orang cemas?

Takut adalah jenis emosi utama yang dirasakan seseorang yang sedang mengalami cemas. Kebutuhan emosinya? Ditenangkan, diberikan perlindungan, dipeluk, dihilangkan ancaman, berikan keterampilan, dll.

Selain emosi ini, sangat dimungkinkan hadir jenis emosi lainnya seperti frustasi, kecewa, marah, dan yang lainnya.

❤Apa yang dilakukan ketika kita sedang menghadapi seseorang yang sedang depresi dan cemas?

Janganlah sekali-kali menembaknya dengan kalimat kurang empatik, seperti: "kamu sih kurang iman, kurang sabar, kurang bersyukur kamu", dan kalimat senada. Jleb banget lho itu dan tidak membantu. Kalau tidak bisa berempati, lebih baik diam.

Apalagi memberikan kalimat yang memojokkan dan menyalahkan. Percayalah orang yang sedang berada di titik terendah itu sudah sibuk menyalahkan dirinya bertubi. 

😰😰

Baca juga ya,  https://www.lokasaga.com/2021/12/mengelola-marah.html

❤Lalu, apa yang semestinya kita lakukan ketika melihat seseorang yang sedang dalam kondisi ini?

Berikanlah ia bantuan. Dalam psikologi, bantuan pertama ini dikenal Psychological First Aid alias P3K Mental dengan 3L, yaitu:

Look, mengamati dengan sepenuh hati dan kenali apa-apa kebutuhannya.

Listen, mendengarkan dengan sepenuh hati dan penuhi kebutuhan emosinya.

Link, rujuk ke ahli jika diperlukan.

Yang intinya, "Berikanlah ruang curhat sebelum memberi nasihat" 

Benar, kenyangkan dulu ia curhat. Ketika ia sudah di titik tenang, baru perlahan kita arahkan dan kita berikan penguatan konsep aqidah termasuk penerimaan pada berbagai ketetapan-Nya.

Ingat ya teman-teman, orang yang sakit mental bukan hanya karena kurang iman, tetapi juga karena ia belum memiliki ilmu literasi emosi. 😊😊

Menurut Diah Mahmudah (psikolog&penulis buku Literasi Emosi), sumber depresi dan cemas yang utama ada dua kondisi:

✅ Karena seseorang kurang iman atau sedang melemah imannya.

✅ Karena seseorang minim literasi emosi.

Iman di sini bukanlah merujuk pada kondisi seseorang yang rajin beribadah (melakukan tata cara ibadah rutin) yang tanpa ruh spiritual. 

Apakah ruh spiritual itu? Kehadiran hati yang penuh dan utuh terhubung dengan Allah ketika ia menjalankan ibadahnya.

Jadi, orang yang depresi tentu ia sedang goyah, ia terguncang oleh rasa duka dan musibah (kehilangan orang tersayang, pekerjaan, dll). Ia belum mengimani kehilangannya itu bagian dari ketetapan-Nya.

Bahkan orang yang cemas dan mengalami banyak ketakutan, apa pun sumber ancamannya, ia sedang dihantui perasaan takut tidak berkesudahan. Di sini konteks kurang iman adalah ia belum menyandarkan takutnya untuk berserah diri kepada-Nya.

Rasa cemas dan depresi bisa dialami oleh seseorang secara bersamaan.

Dinamika psikologis intrapersonal (dinamika emosi) ini, tentu menjadi tidak berkesudahan karena jiwanya kurang terhubung dengan Allah. Bisa karena dari kondisi dari dulu atau bisa di saat ini terjadinya mengingat dengan kualitas iman seseorang yang sifatnya memang naik turun.

Lewat tulisan ini, saya mengajak kepada setiap kita untuk menyadari bahwa seseorang yang sedang sakit mental (depresi dan cemas) itu bukanlah kondisi seseorang karena hanya kurang iman (dalam konteks di atas), tetapi juga karena seseorang itu belum memiliki ilmu literasi emosi. 

Dengan bersandar pada kedua penyebab di atas, maka solusi apa untuk mencegah atau mengobati sakit mental ini?

✅ Kualitas iman di penerimaan dan keberpasrahan kepada Allah diperkuat. Dalam Islam ini disebut langkah syar'i. Pengokohan tema ini adalah bagian utama dari para pemuka agama. 

✅ Kualitas ilmu literasi emosi pun dijemput dan diperkuat. Bekal ilmu ini membuat seorang yang sedang depresi mampu memilih dan memilah cara-cara sehat yang bukan merusak, ketika dirinya sedang dikuasai emosi negatif (contohnya: cemas dan takut). Dalam Islam ini adalah langkah kauny. Pengokohan tema ini adalah bagian utama dari para profesional kesehatan mental (psikolog, psikiater, konselor, dll).

Keduanya saling terkait dan muara utama orang sejahtera mental adalah di poin pertama, dengan tidak mengabaikan proses dan pembekalan di poin kedua.

Sungguh Rasulullah telah mewasiatkan kepada muslim agar berbuat baik pada keluarganya terutama kepada seorang istri. Bahkan Al-Qur'an pun memuliakan wanita dengan surat Annisaa.

Hanya saja, kebanyakan laki-laki lupa wasiat dan tugas ini.....😒

Sekali lagi dapat digarisbawahi, pelajaran dari berita ibu yang viral tersebut adalah tidak ada yang membenarkan perbuatan menyakiti apalagi sampai menghilangkan nyawa. Yang menjadi fokus pembahasan adalah "kesehatan mental".

Jangan menunggu kita di posisi tersebut baru kita akan mengerti. Na'udzubillahi min dzaalik!

Belajarlah berempati dari sekarang. Jika tak bisa menjadi teman berbincang, tahanlah jari dan jangan mengutuki dirinya. Do'akan yang terbaik untuk anak-anaknya dan sang ibu.

Setiap kita tentu beda ujiannya, beda juga kekuatan mentalnya.

Jangan denial, masalah anxietas, psikosomatis, skizofrenia, bipolar, ocd (obsessive compulsive disorder) dan lain sebagainya masalah kesehatan mental itu tidak bisa dianggap sepele. Harus banyak belajar dan perlu tahu. Disamping belajar agama pun juga sangat perlu dan keharusan bagi setiap muslim/muslimah dalam mengarungi sendi kehidupannya.

Dengan harapan, kita mampu untuk menahan diri dan menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan dan mental siapapun. Tentu menjadi bahan pembelajaran buat ibu-ibu khususnya. Semangat selalu ibu-ibu dimanapun berada. Memang kita tidak saling mengenal secara personal, namun setidaknya kita dapat saling membantu menguatkan melalui tulisan.πŸ’–

Ingat, menjaga kewarasan seorang ibu itu : Penting.😊

πŸ’Ÿ Salam Penuh Empati,

πŸ’ŸSalam Sadar Sejahtera Mental,







Komentar

  1. Trimakasih, Mba Husna, padet banget artikelnya. Jadi tindakan awal yg dilakukan pda seseorang yg sdg depresi adalah kasih ruang curhat dulu, ya, mba, sebelum nasehat. Noted. Thank you for sharing.

    BalasHapus
  2. bener mbak, kewarasan seirang ibu adalah segala-galanya, sebab semua bisa dilakukan sang ibu dalam satu waktu sekaligus, thnks ya mbak sharingnya, lengkap.

    BalasHapus
  3. Deskjob seorang ibu multitasking banget ya mba maya☺️

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai dengan Innerchild

               Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan atau menyedihkan sering kita mendengar kalimat...."biarlah waktu yang akan menyembuhkan". Betulkah demikian?  Waktu hanya mampu berlalu dan tak kuasa mengubah aku, kamu dan kondisi seseorang. Sejatinya perubahan hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang hidup. Meskipun waktu bisa berjalan namun tidak ditugaskan untuk melakukan perubahan. Jangan menyerahkan nasib kepada waktu. Jangan berharap waktu akan menyembuhkan segalanya. Jangan menunggu waktu sebab waktu tak pernah menunggu siapapun. Waktu tak punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah manusia, apalagi sebagai obat penyembuh luka. Waktu hanya bisa berlalu begitu saja dan menjadi saksi bisu pada perubahan yang selalu ada. Itulah mengapa masih banyak luka yang tak sembuh seiring berjalannya waktu. Begitupun kondisi yang tak kunjung berubah, padahal waktu telah berjalan dalam hitungan ribuan detik. Boleh jadi, luka-luka kita di masa lalu disebabkan

Coping Stress dengan Menonton Film, Why Not?

                                                                     Ilustrasi menonton film (www.freepik.com) Mungkin terdengar sedikit aneh. Kenapa menonton film dapat menjadi salah satu upaya penanggulangan stres (coping stress). Baiklah, saya coba untuk mengulas sedikit tentang ini. Stres banyak diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak menyenangkan dan menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada orang tersebut. Kondisi yang dirasakan tentu tidak menyenangkan, karena ada perubahan dan tuntutan kehidupan dimana tuntutan tersebut dianggap sebagai beban yang melebihi kemampuan baik secara mental, fisik, emosional maupun spiritual. Sumber stres dapat berasal dari diri sendiri, keluarga maupun komunitas atau lingkungan. Reaksi stres yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti yang ditunjukkan di bawah ini: a. Gejala fisiologis; seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit punggung, leher tegang, tekanan darah tinggi, kelelahan,

Mengapa Harus Pura-Pura Bahagia

Berpura-pura kerap kali dimaknai dengan sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang dari persepsi yang lain, berpura-pura dianggap menimbulkan tindakan yang positif, seakan memang sangat diperlukan. Betulkah demikian? Yuk kita bahas. "Am I okay?" Hehehe. Belum tentu yang kita lihat di luar adalah benar-benar cerminan apa yang di dalam. Terkadang manusia pura-pura merasa bahagia karna tidak ingin terlihat lemah karna yang orang lain tahu bahwa kita ini kuat. Kapan terakhir kali kita merasa bahagia? Yaa benar-benar bahagia, bukan kita yang harus merasa bahagia...Cukup lama mungkin jawabannya. Menurut pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha Rehulina, kondisi berpura-pura bahagia ini populer dinamakan Duck syndrome . Menampilkan diri seperti bebek (duck),  di atas permukaan air terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Orang yang berpura-pura bahagia berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perju