Negeri Ini Hampir Kehilangan Ayah



"Dunia AYAH saat ini tidak lebih dari sebuah kotak. Yaaa, kotak handphone, televisi dan laptop atau komputer. Miris!"

Semua pengajar anak di usia dini mayoritas diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country. Banyak ayahdi luar sana yang malu mengasuh anak apalagi jika masih bayi. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. 

Dimana AYAH sang pengajar utama?

Dear para ayah,

Anak laki-lakimu belajar bagaimana menjadi laki-laki dewasa dari sikapmu dalam keseharian.

Anak perempuanmu belajar membangun pemaknaan tentang definisi laki-laki dewasa itu seperti apa dari hasil pengamatannya pada dirimu.

Seorang ayah boleh dan harus bersikap tegas namun bukan kasar. Terkadang sikap lembutmu juga sangat dibutuhkan namun bukan menandakan kalau dirimu lemah.

Kalau anak laki-laki tidak dekat dengan ibunya, kelak dia dewasa mungkin susah memahami perempuan. Sedangkan anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya, kelak dewasa dia akan mencari-cari sosok pengganti peran ayah.

Seorang anak laki-laki membutuhkan peran ayah 75% dan peran ibu 25%.  Sedangkan seorang anak perempuan membutuhkan peran ibu 75% dan peran ayah 25%. Peran ayah menumbuhkan ego (sang raja tega). Sedangkan peran ibu menumbuhkan kelembutan (sang pembasuh luka). Ayah dan ibu yang menjalankan peran masing-masing dengan baik mampu berdampak positif pada proses tumbuh kembang anak yang sesuai dengan fitrahnya.

Ketika banyak kulwap (kuliah whatsapp) bertema parenting diadakan sana-sini, ternyata banyak yang bertanya dan mengeluhkan sikap sang ayah yang cuek dalam pengasuhan.

Tak jarang ketika seorang anak mulai sulit di arahkan, sang ayah langsung gampang sekali naik pitam.

Hayo para ayah, tobat yuk, jauh-jauh dari sifat-sifat ini ya 😎

Disaat anak rewel, jangan sampai merasa hal tersebut wajar, namanya juga anak-anak. 

Disaat istri cemburu jangan sampai beranggapan itu bukan hal yang baru, yaa.. memang wanita dilahirkan menjadi pencemburu. 

Disaat ayah marah pada anak, itu menjadi hal yang manusiawi karena manusia memiliki emosi. 

Anggapan-anggapan inilah yang mengaburkan masalah. Sehingga pada puncaknya sebuah kapal bisa karam karena keretakan-keretakan yang kecil.

By the way, saya baru ingat sebuah quote yang terpampang di salah satu dinding tempat publik.....

Kita tidak akan jatuh oleh hal-hal yang besar, namun kita akan hancur oleh hal-hal yang kecil." 

Ternyata selama ini bukannya tidak ada masalah, namun diri ini tidak mau membuka hati merasakan bahwa masalah itu ada, besar dan mengancam.

Belajar lagi yuk menjadi orang tua yang bisa selalu bersyukur serta bisa memahami anak secara utuh untuk mewujudkan anak yang berkarakter.

Dear ayah dan bunda....😊

Kita sepakat ya bahwa usaha untuk mendidik karakter anak-anak memang tidak ada yang instan ya, kebanyakan orang beranggapan bahwa mendidik anak itu adalah seperti resep membuat mie goreng, apa saja alat dan bahannya, disiapkan lalu di goreng sesuai petunjuk. 

Tapi anak kita adalah manusia yang memiliki pemikiran, hati, dan memiliki nurani.

Langkah awal untuk mendidik anak berkarakter adalah dimulai dari membenahi dan membereskan diri kita sendiri terlebih dahulu  sebagai orang tua, agar menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Enggak cepet baperan, terbebas dari trauma masa lalu, sehingga menjadi pribadi yang menyenangkan, bahagia dan sabar tanpa syarat.πŸ’ͺ

Sedikit flashback...., kira-kira tiga tahun yang lalu, diri ini pun merasa sangat sulit untuk bahagia, parahnya saya pun memiliki patokan standar kebahagian sendiri,.πŸ˜”

Berangan-angan jika akan merasa bahagia apabila mempunyai banyak uang, akan bahagia jika bisa jalan jalan ke tempat tempat yang sedang viral, akan bahagia jika suami penuh perhatian dan romantis, akan bahagia jika sudah memiliki rumah sendiri dan kendaraan bergengsi, akan bahagia jika memiliki penampilan yang up to date, akan bahagia jika selalu makan makanan yang enak, akan bahagia jika memiliki barang-barang branded yang diinginkan. Ahhh masih banyak lagi dech syarat untuk bahagia waktu itu....😭😒😒

Alih alih bahagia namun yang ada hanya kekecewaan yang tak berujung, punya ekspektasi yang tak sesuai dengan kenyataan. Alhasil diri ini sering merasa lelah sendiri.

Ternyata tanpa sadar dengan kondisi yang saya alami itu, saya memiliki tameng diri dan mengalami berbagai macam penyakit hati yang membuat saya sulit untuk bahagia.

Alhamdulillah dengan izin Allah, saya belajar membuka tameng diri saya satu persatu dan menyembuhkan penyakit hati yang ada dalam diri saya ini, step by step....

Hidup saya terasa lebih menyenangkan, lebih bersemangat, berasa hidup kembali dan bisa bahagia tanpa syarat apapun. Ketika seorang ibu bahagia maka akan menularkan energi positif ke semua anggota keluarga di rumah, aura kebahagiaan pun akan ikut dirasakan oleh suami dan anak anak, sehingga mendidik anak menjadi anak anak yang berkarakter akan terasa lebih mudah,

Bahkan seorang anak yang berkarakter baik berawal dari kedua orang tuanya yang begitu hangat, orang tuanya selalu menampakan kebahagiaan terhadap anak-anaknya dan lingkungan sekitar, sehingga kebahagiaan tersebut secara otomatis menular kepada anak-anak.Orang tua yang selalu merasa bahagia akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya.😍

Tidak mudah memang mewujudkan semua itu, tidak cukup hanya dengan sebatas teori, namun perlu latihan-latihan khusus dan pembiasaan  yang tidak instan. Namun tidak mustahil juga untuk segera dicoba demi kelangsungan mental yang sehat buat anak-anak  generasi penerus negeri.



Semangat yaaa Ayah, Bunda.....πŸ˜‰

Jangan sampai negeri ini kehilangan figur AYAH lagi

Mudah mudahan Allah memudahkan ikhtiar kita mendidik anak anak yang berkarakter.

Awali lebih dulu menjadi orang tua yang bahagia.

Komentar

  1. Bahagia memang harus diawali dengan kejernihan berpikir dan ringan dalam melangkah. Semoga kita bisa mendobrak sisi gelap yg ada dalam diri kita. Kereeen mba artikelnya. Lanjuutkan...πŸ€—

    BalasHapus
  2. semoga kita bisa mendidik anak2 kita dengan baik . Gambaran pengalaman yang banyak dirsakan oleh para orang tua pada umumnya. Terima kasih risalah jiwa yg menenangkan hati. ☺️

    BalasHapus
  3. Sharing yang sangat bermanfaat ini Mbak. Bener banget, anak adalah cerminan kita. Jika kita selalu bahagia maka anak-anak kita pun akan terbentuk menjadi pribadi yang bagus dan selalu bahagia pula.

    BalasHapus
  4. Seketika saya rindu ayah, Mba. Ya, memang rasa itu sedikit datang terlambat. Saat ayah tiada, banyak hal yang baru saya pelajari tentang sosoknya. Semoga artikel ini dapat mencerahkan banyak ayah dan anak.

    BalasHapus
  5. Setuju, Mbak.
    Sebagai orang tua, kita harus "selesai" dulu dengan diri kita supaya kita bisa memberikan kenyamanan pada anak-anak kita.

    BalasHapus
  6. Kunci bahagia mendidik anak bersama pasangan kita adalah ikhlas membersamai anak tanpa saling acuh memihak salah seorang spt wanita saja yg harus mendidik dan mengasuhnya,tapi sesungguhnya membersamai anak adalah urusan bersama yaitu antara ayah dan ibu. Jadi anak tidak akan kehilangan sosok figur ayah yang tahunya sebagai pencari nafkah dan tak ada urusan membersamai juga si buah hati.

    BalasHapus
  7. orang tua yang bahagia akan menemani dan mendidik anak dengan bahagia. Anak ibarat spon yang menyerap informasi apapun yang ada di sekitarnya.
    menarik artikelnya mbak

    BalasHapus
  8. Sepakat, Mba. Kita memang masih harus banyak belajar

    BalasHapus
  9. figur ayah atau ibu memang sangat dibutuhkan untuk perkembangan karakter anak, dan mereka akan selalu meniru apapun yang orangtua lakukan.

    Tulisan seperti ini menjadi bahan bekal untuk aku nikah nanti. hihi

    BalasHapus

  10. Kunci bahagia adalah bersyu dan ikhlas, bersyukur aja tidak cukup tanpa rasa ikhlas seperti sayur tanpa garam.

    BalasHapus
  11. Kisah seru untu menghilangkan perisai diri. Kadang kita tidak tahu ada tameng atau perisai dalam diri kita dan biasanya tanpa kita sadari bisa mengahmbat kita

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah...anak-anak saya, mendapat kasih yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Kami dari awal berkomitmen untuk mendidik anak bersama-sama

    BalasHapus
  13. Orangtua yang hangat, yang nggak hanya menghakimi dan menghukum tapi juga mampu mengapresiasi anak. Semoga kita semua mampu membahagiakan anak kita

    BalasHapus
  14. Seorang anak membutuhkan peranan yang sama dari ayah ibunya, jika peranan ini timpang maka anakpun seakan ada yang kurang dalam pertumbuhannya. Tidak masalah apakah ayah yang berperan labih banyak atau ibunya yang lebih banyak, yang penting kedua orang tua mampu memenuhi kebutuhan sesuai pertumbuhan anak. Semoga dengan adanya artikel ini makin banyak orangtua yang mau menginvestasikan waktunya buat anak-anaknya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Apa Layangan Itu Putus

Ngeblog Bukan Sekedar Refleksi Diri