Langsung ke konten utama

Beban Hidup yang Menyelamatkan

 



Dear teman😊

Kesuksesan itu harus kita raih, tapi ada yang lebih penting dari sebuah kesuksesan yaitu ketenangan jiwa. Kalau jiwa kita tenang dan nyaman maka akan menghadirkan kesehatan secara spiritual. Sebab kesehatan secara spiritual akan menghadirkan kesehatan secara fisik. 

Jadi sehat fisik kita hari ini dipengaruhi oleh pikiran kita, Dan sebaliknya kalau fisik kita hari ini sedang kurang sehat, sebenarnya ada yang kurang sehat dengan pikiran dan perasaan kita.

Tentunya teman-teman semua, kita perbaiki hati kita, pikiran kita, sehingga sehat fisik, sehat penampilan kita itu lebih memancar karena semua itu berawal dari dalam diri kita.

Yuk, kita sama-sama berusaha membersihkan hati kita dari perasaan-perasaan yang kurang positif terhadap orang lain, keluarga kita atau kepada keadaan-keadaan yang terjadi dalam hidup kita. 

Ada yang mungkin sudah paham tentang The Law of Attractions, yaitu sebuah hukum ketertarikan atau tari-menarik yang meyakini bahwa apapun yang kita lakukan dalam pikiran dan rasa, maka itulah yang akan di tarik dan hadir ke dalam kehidupan baik positif maupun negatif.

By the way, mungkin hari ini ada di antara kita atau orang-orang di sekeliling kita yang sedang memiliki beban persoalan hidup yang luar biasa. Bisa dipahami itu semua tidaklah mudah. Tapi...mari kita berpikir sejenak, bahwasanya beban kita adalah beban yang sebenarnya menyelamatkan kehidupan kita. 

Kok bisa begitu?

Ya terkadang....sesuatu yang kita anggap sebagai beban malah menyelamatkan hidup kita sendiri.

Kita mungkin pernah melihat sebuah peristiwa luar biasa di sebuah jalan, ada sebuah mobil besar dan mau jatuh ke dalam jurang, tapi karna mobil itu membawa muatan yang banyak akhirnya mobil tersebut tidak jadi jatuh. Kenapa? Karna beban yang berat menyelamatkan si mobil itu jatuh ke dalam jurang.

Peristiwa ini memberikan sebuah pesan pada kita bahwasanya beban yang hadir dalam kehidupan kita sebetulnya dialah yang menyelamatkan hidup kita. 

Mengapa demikian? Mari kita analisa bersama-sama...😊

Kalau seandainya ada orang yang dalam keadaan kurang sehat berarti dia sedang diuji, dia sedang dibersihkan dirinya dari dosa-dosa masa lalu. InsyaAllah. 

Kalau seandainya seseorang mempunyai persoalan di dalam hidupnya, tandanya Sang Pencipta sayang dengannya. 

Kalau seandainya seseorang itu memiliki tantangan dalam hidupnya, InsyaAllah dia sedang dalam proses bertumbuh.

Jadi sebenarnya, persoalan-persoalan dalam hidup ini, kalau kita berpikirnya dengan positif, berpikirnya dengan betul-betul menggunakan hati yang tenang, hal tersebut sebetulnya adalah anugerah dari Sang Pencipta. 

Entah persoalan ini isinya ujian hidup atau teguran tapi hakikatnya adalah sebuah kebaikan dari Sang Pencipta untuk membuat hidup kita lebih baik.


Mari teman-teman semuanya...😊

Pertama, kita pahami terlebih dahulu bahwasanya kesehatan fisik kita adalah berawal dari kesehatan lahir kita, baik kesehatan perasaan, kesehatan yang ada dalam diri kita, batin kita. Jadi semuanya berawal dari dalam diri kita. Pikiran dan perasaan kita harus dijaga tetap positif.

Kedua, seandainya hari ini kita mendapati suatu persoalan dalam kehidupan, tandanya kita sedang bertumbuh. Sang Pencipta sedang sayang dengan kita. Berjuta-juta orang di Indonesia yang saat ini sedang mengalami tantangan dalam pekerjaannya. Kalau kita berpikir positif, jika hari ini kita menjadi bagian dari "orang yang dirumahkan" berarti kita di suruh bertumbuh menjadi orang yang lebih kreatif dalam berpikir.

Teman-teman semuanya....😊

Semoga refleksi kisah di atas, menjadikan hati kita lebih lapang dan membuat pikiran kita lebih terbuka.

Memang kita sebagai manusia selalu ada yang namanya jarak atau batasan-batasan pertemuan.

Tapi perlu kita pahami, ada banyak hal yang tidak dibatasi oleh Sang Pencipta. Kata-kata do'a kita tidak dibatasi. Kita bisa berdo'a dimana saja.

Pikiran dan imajinasi kita pun tidak dibatasi. Kita bisa berkreasi dan berkarya dimana saja. 

Allahu akbar. Allah Maha Besar. Semoga Allah ridho dengan sikap dan langkah kaki kita.

Terima kasih yang tak terhingga untuk masing-masing diri kita yang sudah mengerti sampai sejauh ini akan persoalan hidup yang hadir silih berganti. 

Terima kasih diri dan seluruh anggota tubuh kita yang sudah bekerja sama dengan sangat baik dan solid demi menghadapi segala macam ujian kehidupan.

Laa tahzan....beban hidup justru terkadang menyelamatkan kita.

Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. Amiin.

www.lokasaga.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai dengan Innerchild

               Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan atau menyedihkan sering kita mendengar kalimat...."biarlah waktu yang akan menyembuhkan". Betulkah demikian?  Waktu hanya mampu berlalu dan tak kuasa mengubah aku, kamu dan kondisi seseorang. Sejatinya perubahan hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang hidup. Meskipun waktu bisa berjalan namun tidak ditugaskan untuk melakukan perubahan. Jangan menyerahkan nasib kepada waktu. Jangan berharap waktu akan menyembuhkan segalanya. Jangan menunggu waktu sebab waktu tak pernah menunggu siapapun. Waktu tak punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah manusia, apalagi sebagai obat penyembuh luka. Waktu hanya bisa berlalu begitu saja dan menjadi saksi bisu pada perubahan yang selalu ada. Itulah mengapa masih banyak luka yang tak sembuh seiring berjalannya waktu. Begitupun kondisi yang tak kunjung berubah, padahal waktu telah berjalan dalam hitungan ribuan detik. Boleh jadi, luka-luka kita di masa lalu disebabkan

Coping Stress dengan Menonton Film, Why Not?

                                                                     Ilustrasi menonton film (www.freepik.com) Mungkin terdengar sedikit aneh. Kenapa menonton film dapat menjadi salah satu upaya penanggulangan stres (coping stress). Baiklah, saya coba untuk mengulas sedikit tentang ini. Stres banyak diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak menyenangkan dan menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada orang tersebut. Kondisi yang dirasakan tentu tidak menyenangkan, karena ada perubahan dan tuntutan kehidupan dimana tuntutan tersebut dianggap sebagai beban yang melebihi kemampuan baik secara mental, fisik, emosional maupun spiritual. Sumber stres dapat berasal dari diri sendiri, keluarga maupun komunitas atau lingkungan. Reaksi stres yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti yang ditunjukkan di bawah ini: a. Gejala fisiologis; seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit punggung, leher tegang, tekanan darah tinggi, kelelahan,

Mengapa Harus Pura-Pura Bahagia

Berpura-pura kerap kali dimaknai dengan sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang dari persepsi yang lain, berpura-pura dianggap menimbulkan tindakan yang positif, seakan memang sangat diperlukan. Betulkah demikian? Yuk kita bahas. "Am I okay?" Hehehe. Belum tentu yang kita lihat di luar adalah benar-benar cerminan apa yang di dalam. Terkadang manusia pura-pura merasa bahagia karna tidak ingin terlihat lemah karna yang orang lain tahu bahwa kita ini kuat. Kapan terakhir kali kita merasa bahagia? Yaa benar-benar bahagia, bukan kita yang harus merasa bahagia...Cukup lama mungkin jawabannya. Menurut pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha Rehulina, kondisi berpura-pura bahagia ini populer dinamakan Duck syndrome . Menampilkan diri seperti bebek (duck),  di atas permukaan air terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Orang yang berpura-pura bahagia berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perju