Langsung ke konten utama

Kampanye#KejuAsliCheck Melalui Kolaborasi Selera, Rasa dan Guna Keju Cheddar Berkualitas






"Ma, kok rasa kejunya ngga kayak biasanya ya...."

Celetukan paksu (pak suami) di suatu pagi membuatku mengernyitkan dahi. Selidik punya selidik ternyata ada yang tidak biasa menemani menu sarapan kami kala itu. Si Bibi alias asisten rumah tangga kami keliru membeli brand keju cheddar yang biasa kami sekeluarga konsumsi sehari-hari. Maklum saat ini, banyak banget brand-brand keju cheddar berseliweran. Mungkin si bibi bingung waktu memutuskan harus beli keju cheddar yang mana.πŸ˜‘

Banyak produk keju cheddar yang serupa tapi sebenarnya tak sama. Aware ya, tidak semua produk keju cheddar di pasaran berbahan utama keju cheddar.

Oke, berarti untuk urusan yang satu ini aku harus turun tangan langsung....daripada nanti paksu komplen lagi, alamat jatah belanja bisa dikurangiπŸ˜πŸ˜„. 
Mungkin begitu kira-kira hatiku berbisik dengan spontan.

Ya memang, kami sekeluarga sangat mengidolakan  keju cheddar KRAFT sebagai campuran berbagai olahan sajian lezat bernutrisi dan favorit pelengkap hidangan sehari-hari. Apalagi ketiga anakku teramat sangat menyukai rasa keju yang satu ini ketimbang jenis serupa brand lain. Keju cheddar KRAFT memiliki rasa lezat dengan gurih keju yang khas serta tanpa perisa tambahan. Ini poin pentingnya.

Bukan tanpa alasan, aku menjatuhkan pilihan pada KRAFT yang berbahan utama keju asli New Zealand serta dilengkapi nutrisi calcimilk yang kaya akan kalsium dan sumber protein dan vitamin D. Tentu sangat bagus bagi masa pertumbuhan anak-anak. Mengingat imunitas anak terkadang belum berkembang sempurna, sehingga perlu dijaga dengan mencukupi asupan zat gizi yang dibutuhkan.

Selaras dengan penelitian National Library of Medicine menyebutkan pula bahwa produk olahan susu kaya kalsium, salah satunya keju cheddar terbukti dapat meningkatkan kepadatan tulang anak. "Selain itu keju cheddar juga bisa berperan sebagai sumber energi yang tinggi kalori agar buah hati dapat terus bergerak dan tidak mudah merasa lelah," ungkap Dr. Rita Ramayulis DCN M.Kes selaku Nutritionist.

Bukti baru menunjukkan bahwa makanan seperti keju dapat membantu melindungi jantung. Hal ini dinyatakan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Cardiovascular Research
Para peneliti menemukan bahwa makan keju dalam jumlah kecil secara teratur mampu mengurangi resiko penyakit kardiovaskular, hal ini disebabkan oleh proses fermentasi dari si keju. 

By the way, si keju yang dimaksud tentu keju dengan kualitas baik dong, ya. Seperti KRAFT tentunya.

Eitsss, ternyata tidak itu saja manfaat keju. Ada hasil riset yang lebih membahagiakan lho!. 
Mau tau aja.... atau mau tau banget?πŸ˜„

Gini... Menurut ahli Nature Medicine, dikatakan bahwa keju sangat mampu mengurai senyawa jahat pada tubuh yang sering menyebabkan penuaan dini dan kematian dini. Para peneliti juga menemukan bahwa di dalam keju mengandung senyawa alami yang sangat baik untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis seseorang. Widihhhh keren gak tuh!πŸ‘

Yuk moms, be smart buyer! Jadilah Ibu yang lebih pintar dalam memilih keju cheddar dengan komposisi bahan yang tepat dan berkualitas dengan menghadirkan kampanye #KejuAsliCheck. Sehingga para ibu dapat memastikan kandungan gizi yang optimal dalam proses tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Dian Ramadianti selaku Senior Marketing Manager Keju KRAFT menjelaskan bahwa kampanye #KejuAsliCheck ini merupakan inisiatif dari KRAFT, sebagai panduan yang memudahkan para ibu dalam membaca label makanan pada kemasan keju cheddar serta memberikan edukasi kepada semua Ibu di seluruh Indonesia terkait kandungan nutrisi keju cheddar dengan komposisi yang tepat dan berkualitas.

"Kampanye #KejuAsliCheck juga dapat diterapkan melalui dua cara mudah, yaitu dengan memastikan keju pada urutan pertama komposisi (bukan air atau tepung) dan memiliki klaim nutrisi pada kemasan produk. Sesuai dengan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) yang menyebutkan bahwa komposisi bahan baku pada label makanan diurutkan berdasarkan jumlah, dari kandungan yang tertinggi ke rendah." jelas Dian.

FYI (For Your Information), pencantuman label pada produk pangan olahan di Indonesia untuk memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat tentang setiap produk makanan yang dikemas, sebelum membeli atau mengonsumsi makanan.

Selanjutnya, para ahli gizi tersebut juga menyarankan agar kita mengonsumsi keju tidak lebih dari 10 gram setiap harinya. Bahkan lebih baik, jika keju tersebut dikonsumsi 2 hingga 3 kali saja dalam seminggu. Agar kebutuhan gizi yang lain seperti empat sehat lima sempurna juga dapat terpenuhi dengan baik.

Bagi kamu yang suka banget sama keju tolong baca baik-baik yaaa, pastikan jangan terlalu banyak  mengonsumsi keju sebab bila berlebihan akan terjadi penumpukan lemak yang beresiko pada obesitas atau diabetes.Okey,noted!

Sedangkan bagi kamu yang tidak terlalu suka keju, tak ada salahnya jika kamu mulai menyukai keju dari sekarang dan mengonsumsinya demi kesehatan kamu. 
Enak rasanya dapat, manfaatnya juga dapat. Bingo!

So, cobain deh, sensasi kenikmatan keju cheddar KRAFT yang tak pernah gagal membuat perasaan siapa pun yang menikmatinya jadi jauh lebih bahagia dari sebelumnya.😍


Semoga sekelumit kisah keluarga penikmat keju ini, bermanfaat yaa.😊
Selamat berbahagia menikmati sensasi rasa keju KRAFT yang selalu membahagiakan.πŸ˜‰

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai dengan Innerchild

               Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan atau menyedihkan sering kita mendengar kalimat...."biarlah waktu yang akan menyembuhkan". Betulkah demikian?  Waktu hanya mampu berlalu dan tak kuasa mengubah aku, kamu dan kondisi seseorang. Sejatinya perubahan hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang hidup. Meskipun waktu bisa berjalan namun tidak ditugaskan untuk melakukan perubahan. Jangan menyerahkan nasib kepada waktu. Jangan berharap waktu akan menyembuhkan segalanya. Jangan menunggu waktu sebab waktu tak pernah menunggu siapapun. Waktu tak punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah manusia, apalagi sebagai obat penyembuh luka. Waktu hanya bisa berlalu begitu saja dan menjadi saksi bisu pada perubahan yang selalu ada. Itulah mengapa masih banyak luka yang tak sembuh seiring berjalannya waktu. Begitupun kondisi yang tak kunjung berubah, padahal waktu telah berjalan dalam hitungan ribuan detik. Boleh jadi, luka-luka kita di masa lalu disebabkan

Coping Stress dengan Menonton Film, Why Not?

                                                                     Ilustrasi menonton film (www.freepik.com) Mungkin terdengar sedikit aneh. Kenapa menonton film dapat menjadi salah satu upaya penanggulangan stres (coping stress). Baiklah, saya coba untuk mengulas sedikit tentang ini. Stres banyak diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak menyenangkan dan menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada orang tersebut. Kondisi yang dirasakan tentu tidak menyenangkan, karena ada perubahan dan tuntutan kehidupan dimana tuntutan tersebut dianggap sebagai beban yang melebihi kemampuan baik secara mental, fisik, emosional maupun spiritual. Sumber stres dapat berasal dari diri sendiri, keluarga maupun komunitas atau lingkungan. Reaksi stres yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti yang ditunjukkan di bawah ini: a. Gejala fisiologis; seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit punggung, leher tegang, tekanan darah tinggi, kelelahan,

Mengapa Harus Pura-Pura Bahagia

Berpura-pura kerap kali dimaknai dengan sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang dari persepsi yang lain, berpura-pura dianggap menimbulkan tindakan yang positif, seakan memang sangat diperlukan. Betulkah demikian? Yuk kita bahas. "Am I okay?" Hehehe. Belum tentu yang kita lihat di luar adalah benar-benar cerminan apa yang di dalam. Terkadang manusia pura-pura merasa bahagia karna tidak ingin terlihat lemah karna yang orang lain tahu bahwa kita ini kuat. Kapan terakhir kali kita merasa bahagia? Yaa benar-benar bahagia, bukan kita yang harus merasa bahagia...Cukup lama mungkin jawabannya. Menurut pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha Rehulina, kondisi berpura-pura bahagia ini populer dinamakan Duck syndrome . Menampilkan diri seperti bebek (duck),  di atas permukaan air terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Orang yang berpura-pura bahagia berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perju