Tak Apa Layangan Itu Putus




Dear teman,

Bukan bermaksud latah atau discuss yang lagi viral, tulisan saya kali ini hanya mencoba untuk mensinkronkan pengetahuan psikologi yang sudah diperoleh pada jenjang strata satu dan dua, dengan sebuah kisah nyata yang diangkat ke dalam tayangan film "Layangan Putus" dan sukses besar menguras emosi emak-emak se-Indonesia Raya, fenomenal!πŸ˜„.

Termasuk kalimat "It's my dream mas, not her's", begitu fenomenal di berbagai media sosial belakangan iniπŸ˜„.

Sebenarnya kisah di film "Layangan Putus" adalah kisah yang umum terjadi di masyarakat, bukan sesuatu yang pertama terjadi maksud saya, ya gitu dech, ini tentang perselingkuhan. Tergantung dari sisi mana kita melihat permasalahan ini. 

Menurut beberapa peneliti, perselingkuhan dikelompokkan menjadi dua jenis, diantaranya perselingkuhan seksual dan perselingkuhan emosional yang mana individu berbagi ikatan emosional yang mendalam dengan orang yang bukan merupakan pasangannya (Cann & Baucom, 2004; Nagurney & Thornton,2011).

Bahkan di penelitian lain, terungkap penyebab dari seseorang melakukan perselingkuhan. Watkins dan Boon (2016) menjelaskan bahwa laki-laki cenderung melakukan perselingkuhan karena motivasi seksual, sedangkan wanita karena adanya ketidakpuasan secara emosional dalam pernikahan.

***

Namun menurut saya, yang membuat film ini sangat menarik adalah lebih kepada dinamika psikologisnya, betapa kuat karakter Kinan. Bagaimana kondisi rumah tangga Kinan yang tidak sesuai ekspektasi. Keluarga kecil yang diharapkan "bahagia" berujung tanpa kenyataan. 

Harapan-harapan yang telah direncanakan tetiba ambyar. Kehamilan Kinan yang seharusnya membutuhkan perhatian ekstra, empati, menumbuhkan emosi positif agar janin berkembang sempurna malah tidak didapatkannya.

Ini adalah konflik, kondisi stres dengan stimulus yang tidak diharapkan merupakan situasi yang berat untuk dihadapi oleh Kinan. Sebab sejatinya setiap individu mengalami konflik dan stress, pastinya dengan stimulus yang berbeda-beda dan tidak sama ukurannya.

Reaksi stress itu sendiri dapat bermacam-macam. Selanjutnya adalah bagaimana coping stress dari masing-masing individu ketika merespon kondisi stress-nya. Ada dua macam coping yang perlu kita ketahui, ada yang bernama problem focused coping dan ada yang namanya emotional focused coping.

Daaaaan, Kinan lebih prefer untuk memilih problem focused coping. Dia terus ber-tabayyun (mencari data) dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi konflik yang dihadapi. Yup, Kinan tidak lari dari konflik dan tidak melakukan hal-hal "aneh".

Support system dari Kinan memang luar biasa. Yaa, itulah peran penting sahabat sejati. Itulah pentingnya menjaga relationship. Meskipun mungkin diantara teman Kinan ada yang kurang memvalidasi kondisi Kinan sehingga yang tadinya bermaksud menenangkan malah jatuhnya seperti tidak berempati. Nah, pelajaran juga nih buat kita, jangan sampe ya kita jadi kurang memvalidasi kondisi emosi orang terdekat yang ada dalam hidup kita sehari-hari, bisa siapa pun...😊

It's OK, sahabat kita tentu pernah banyak memberi masukan atau saran dari berbagai kemungkinan, jadi mereka membantu sekedar untuk hal-hal yang bisa dibantu. Hmm... mungkin kondisi seperti ini dapat termasuk dalam kategori PFA atau Psychological First Aid  (Pertolongan Pertama Psikologis).




Apakah PFA itu?πŸ‘€

Menurut WHO (2009), PFA merupakan serangkaian tindakan yang diberikan guna membantu menguatkan mental seseorang yang sedang mengalami krisis dan punya pandangan berbeda bagi setiap individu. PFA ini sendiri dapat diberikan oleh siapa saja yang sudah memahami makna serta prinsip atau langkah-langkah pertolongan pertama psikologis seperti mendengarkan, memenuhi kebutuhan mendesak, menerima segala bentuk perasaan yang ditumpahkan, membantu dengan langkah lebih lanjut serta mengarahkan dengan tindak lanjut yang ada.

Alangkah lebih baiknya, pemahaman PFA ini dapat diperoleh melalui pelatihan yang diberikan oleh tenaga kesehatan mental profesional. Sebab sangatlah penting, bila people helper ini mampu menjaga mental diri sendiri terlebih dahulu sebelum menolong yang lain.

Oke kita kembali pada sosok Kinan lagi ya.... Reaksi marah yang dialami Kinan adalah sesuatu yang wajar, alami, manusiawi dan pasti terjadi pada siapa pun yang sedang berada di posisi seperti Kinan. Tentu terjadi penolakan. Kinan mencoba berkomunikasi dan bernegosiasi. Dia masih menyisihkan harapan, menyiapkan diri untuk memaafkan dan pulih dari luka.

Lelah? Ooo pasti!. πŸ˜“

Sebab kenyataan tak sesuai harapan. Emosi, ego bercampur bau dengan sedikit dendam, kalo bahasanya Kinan "mempertahankan harga diri". Makanya mengapa di saat Kinan mengambil keputusan hendak melaporkan kepada pihak berwajib dan memenjarakan Aris (suami) dan Lidya (WIL). Inilah puncak emosi Kinan. Emosi negatif yang berhasil menguasai perilakunya.

Eh entah mengapa, lagi-lagi Kinan mendapat insight dari sahabatnya. And then...emosi dan ego Kinan dapat dikuasai kembali. Kinan sudah mulai berdamai dengan konfliknya. Self acceptance (Penerimaan Diri) semakin terbentuk. Kondisi terbaik dan terkeren dari sosok seorang Kinan adalah ketika dia mampu mengatakan : "aku ikhlas".

Yes, Kinan mampu berdamai dengan konflik, sekaligus mengambil sikap tegas. Bahasa Jawa-nya mungkin "semeleh" dan "legowo" gitu yaa....πŸ˜‰. 

Kinan akhirnya mampu merelakan kepergian sang suami ke lain hati dan memilih perceraian serta hidup bahagia berdua dengan Raya, anak semata wayang.

Bahkan adegan film yang luar biasa menurut saya adalah ketika Kinan mampu tersenyum kembali bahkan masih mau menolong orang-orang yang telah melukai hatinya. Yaa menolong Lidya, wanita yang menjadi duri dalam rumah tangganya saat ia sedang sakit terbaring lemah di penthouse 5M-nya, hasil pemberian Aris. Miris. Di lain waktu Kinan juga terlihat begitu sangat telaten merawat Aris pasca kecelakaan mobil yang dialami hingga kondisinya benar-benar pulih kembali

So, kenapa dinamika psikologis seorang Kinan ini sangat menarik?

Karena dalam menyikapi setiap permasalahan, Kinan smart (mungkin ditunjang profesinya yang juga seorang dokter). Ia mampu menguasai diri, mampu melakukan analisa-analisa jeli, coping stress yang oke banget, masih tetap fokus, memiliki pendirian yang tegas, tidak kehilangan harga diri, self acceptance juga oke, selalu ber-tabayyun dan di akhir episode Kinan menjadi sosok yang ikhlas.

Tentu hal ini tidaklah mudah untuk dijalani. Butuh proses. Namun Sang Pencipta tidak akan memberikan ujian pada hamba-hambaNya melebihi batas kemampuan masing-masing.

Kita sebagai manusia tidak mungkin mampu mengontrol rejeki, hidup mati dan jodoh. Tapi kita mampu mengontrol perasaan, pikiran serta tingkah laku. Cinta dan rasa sayang juga hak masing-masing individu. Kita tak pernah tahu kapan datang dan perginya. Pernikahan memang bisa direncanakan namun cinta tak bisa direncanakan akan berlabuh kemana pada akhirnyaπŸ’–.

Entah kemana arah layangan akan menuju, yang pasti, kesetiaan seseorang dalam berkeluarga dan berkomitmen menjadi ukuran seberapa bernilainya diri seseorang dan seberapa jelas ikigai-nya atau purpose of life. (baca juga : https://www.lokasaga.com/2022/01/ikigai.html )

Tak apa layangan itu putus, bila memang harus putus.




Komentar

  1. Aih, Layangan Putus. Saya belum lihat sama sekali. Hehehe. Jadi tahu endingnya di sini. πŸ˜†

    Cakep, ya. Mestinya begitulah kita merespon masalah. Apa pun masalah yang datang, semoga bisa kita respon dengan cara yang positif.

    BalasHapus
  2. Berat juga tapi ya, Mbaaa ... untuk mencoba ikhlas. Setelah berkali-kali disakiti. Butuh banyak belajar, belajar, belajar, dan bersabar saat ekspektasi nggak sesuai dengan reality.

    BalasHapus
  3. Wah, ternyata dalam ilmu psikologi pun ada tekniknya saat seseorang di dekat kita mengalami masalah ya. Makasih banyak sharingnya mbak

    BalasHapus
  4. Kinan punya sahabat-sahabat yang sangat sayang dan perhatian kepada dirinya. Sehingga kuat mengahadapi masalah perselingkuhan suaminya. Dia tidak merasa "sendiri" jadi suppirt system itu sangat penting ya mba

    BalasHapus
  5. Saya paling suka dengan alinea ini : "Cinta dan rasa sayang juga hak masing-masing individu. Kita tak pernah tahu kapan datang dan perginya." Dan ini bener sekali, realita yang sesungguhnya, maka dari itu saya lebih setuju kalau tiap individu terutama wanita, sebaiknya jadilah wanita yang selalu mandiri bukan hanya dalam soal ekonomi tapi yang terpenting adalah dalam beraktifitas sehari-hari dan mengambil keputusan, karena dengan begitu kita tidak gampang terombang ambing.

    Sayangnya saya tidak punya kesempatan untuk menonton kisah ini.

    BalasHapus
  6. Support system yang baik juga penting, ya, untuk membantu menghadapi masalah. Untuk sampai ke tahap legowo itu ternyata prosesnya panjang, ya. Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
  7. Wah jadi tau cerita itu dari sini Mbak, ga pernah nntn tv hehe.
    Btw dulu tiap hari aku berkonflik dg suami dg segala cerita, tapi akhirnya aku sendiri yg hrs berdamai, betul! harus ihlas, muhasabah, sambil terus afirmasi menuliskan, mengucapkan: alhamdulillah keluargaku baik² saja, suamiku setia, anak2ku sehat, semua tercukupi, terus kubawa dalam sholat, dalam doa mau tidur, doa bangun tidur.
    MasyΓ a Allah tiba2 semua berubah jauuh lebih baik dan sampai hari ini aku masih terus mengucapkan kata² ini πŸ™

    BalasHapus
  8. walaupun konteks ikhlas yang diharapkan Mas Aris berbeda yang disuguhkan oleh Kinan, ya, Mba...hihi. Dari sini perempuan harus belajar untuk smart tentang fenomena yang memang sepertinya sudah menjadi cerita yang tak lagi asing, melainkan banyak sekali model cerita serupa di dunia nyata. thakyou for sharing Mba...

    BalasHapus
  9. ulasannya menarik mbak, sudut pandang dan mengaitkan dari sisi psikologisnya. Sy belum melihat seri layangan putus tapi membaca ulasan mbak yang menarik ini sepertinya banyak hikmah yang diambil. perempuan itu lembut, tidak lemah tetapi kuat, buktinya dia yang sudah disakiti tetap menolong orang yang menyakitinya. Ada ego yang dikalahkan oleh logika bahwa siapapun manusianya tetap mendapatkan pertolongan.
    salut dengan sikap tegar Kinan

    BalasHapus
  10. Wah, menarik juga Mbak kalau diulas dari segi psikologi. Banyak pelajaran yang bisa diambil, ya..

    BalasHapus
  11. memang kisah perselingkuhan sangat menarik untuk di ulas, namun kebanyakan mereka menilainya dari sisi yang lain, siapa yang salah dan siapa yang benar? tulisan ini bagus bgt mbak, dri sisi psikologis sebenarnya perempuan jauh lebih kuat dibandingkan dengan lelaki meski pada kenyataannya perempuan lebih ke hati dari pada logika, dan pada akhirnya perempuan jugalah yang tersakiti, q juga sering menggunakan istilah"perselingkuhan" ke anak didk q mbak, mksdnya menyuruh mereka fokus pada pelajaran kita bukan membuka buku yang lain atau sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Saya sering mengatakan "Jangan selingkuhi pelajaran saya", nah sekarang jadi fenomenal istilah ini di sekolah tapi dalam konteks yang berbeda 😁😁😁

    BalasHapus
  12. Bagus banget sharing yg lagi viral ini dan menungkanya di sudut pandang psychology tapi saya msh penasaran sm penjelasan lebih jauh ttg emotional focused coping ini mba. hee help me

    BalasHapus
  13. Saya tak mengikuti drama ini Mba. Namun karena dibagikan salah seorang teman di timeline facebook, saya terpapar juga. Terkhusus adegan yang menyatakan kalimat viral itu. Menarik ulasan tentang psikologis ini, Mba. Karakter Kinan yang begitu kuat tampil untuk memberikan makna bahwa kekuatan seorang wanita itu nyata.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri Ini Hampir Kehilangan Ayah

Ngeblog Bukan Sekedar Refleksi Diri