Langsung ke konten utama

Menyusun ulang cara berpikir




Dear teman😊

Pernah gak sih pas lagi ada masalah, kita berpikir, "harusnya yang terjadi gak seperti itu".

"Minimal dia tahu kalau bla..bla..bla.."

"Idealnya kan gak gitu..."

"Aku gak bisa terima kalau kondisinya begitu, kalau saja dia mau berubah, aku bisa lebih tenang, pusing banget sama tingkahnya".

Trus, pernah gak ketika ada masalah...kita berharap banget, situasi, lingkungan atau seseorang dapat berubah dan dapat dikendalikan jadi baik.

πŸ’¬πŸ’­πŸ’¬πŸ’­πŸ’¬πŸ’­

Sesuai dengan "idealnya"....Bukan begitu teman?

Ketika ekspektasimu, harapanmu tak kunjung datang, bikin kepala semakin puyeng, hati menjadi gak karuan rasanya 😞

Sikap yang ditunjukkan semakin gak jelas, gak bisa fokus, gampang marah, gampang negative thinking dan sejenisnya.

Jika memang lingkungan atau sebuah situasi tidak bisa diubah...

Apa lantas kita harus menjadi terpuruk?

Tentu gak dong ah, hidup harus terus berjalan ya sist, broπŸ˜‰

Maka apa yang harus kita lakukan sebagai upaya langkah pertama?



Yup! Mari ubah cara berpikir kita, 

Why? Agar hati, pikiran dan segala sikap sinkron kembali dan terintegrasi dengan baik.

Yeah....inilah yang dinamakan cognitive restructuring!

Cognitive restructuring (CR) atau restrukturisasi kognitif adalah salah satu upaya mengidentifikasi kesalahan dalam berpikir dan menggantinya dengan pikiran yang lebih sehat.

Atau bahasa sederhananya, membuang pikiran dan keyakinan buruk seseorang, diganti dengan bentuk pola pikir yang lebih baik dengan menggunakan teknik perubahan perilaku terlebih dahulu.

Oh ya, restrukturisasi kognitif ini tentu diawali dengan bagaimana cara kita berpikir secara positif daaaaaan.....positive thinking ini gak berarti asal positif gitu aja ya....

Ada tahapannya...ada caranya agar positive thinking ini gak membuat kita semakin menyerah, gak membuat kita semakin terpuruk atau gak pasrah begitu saja.

Bagaimana sich langkah-langkah teknik restrukturisasi kognitif itu?😊

Pertama, identifikasi kognisi negatif atau pikiran negatif yang menyebabkan masalah pada diri seseorang. Kedua, menemukan kognisi positif untuk membangkitkan kemampuan atau kelebihan orang tersebut. Ketiga, latihan coping thought (CT), yaitu membentuk ulang asumsi, keyakinan dan penilaian irasional dan mengalahkan diri (self defeating) dengan teknik persuasi verbal baik secara lisan maupun batin. Keempat, pindah dari pikiran-pikiran negatif ke coping thought. Kelima, pengenalan dan latihan penguat positif. Terakhir adalah tindak lanjut atau follow up.

Aware ya...kita bisa saja salah dalam mengartikan positive thinking, jangan sampai hal ini diartikan cuma memendam emosi negatif yang bakal jadi sampah saja di alam bawah sadar kita.

Logikanya, sampah aja bisa diolah menjadi hal-hal yang berguna dan bermanfaat, kenapa sampah emosi negatif tidak bisa???

Yeekaaannn😁

Okelah.... 

Siapapun kita, apapun profesi kita, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Apalagi kalau kita mulai merasa ada yang tidak beres sama diri kita sendiri.

Segera introspeksi diri dan restrukturisasi.

Misal gini, apa yang akan kita lakukan jika jari tangan kita ga sengaja teriris dan berdarah? 

Lalu apa yang akan kita lakukan jika kepala kita terasa sangat pusing?

Tentulah naluri kita sebagai manusia pasti berusaha untuk menyembuhkan bukan?

So, demikian pula dengan cara berpikir kita yang tentu berdampak pada kesehatan mental πŸ’ž

Pedulilah dengan kesehatan mental diri kita sendiri, atau orang yang kita sayang namun terkadang masih sering diabaikan.

Kenapa harus begitu???

Sebab.....secara fisik dan psikis, mental health ini gak kelihatan. Tapi jangan salah yaaa, dampaknya bisa ngeri lho.

Yuk aware sama lingkungan di sekitar kita, mungkin itu saudara, sahabat, kolega, murid bahkan tetangga sekalipun. Yuk ngasih kontribusi positif saat ini juga agar terkondisikan lingkungan yang aman, nyaman dan membahagiakan buat mereka.πŸ’–

Once more dear, saat kita lagi ngerasa cemas, insecure, overthinking, ngerasa sendiri, sepi atau apalah itu sebutan yang se-circleπŸ˜„

Coba deh, benahi lebih dulu cara berpikir yang selalu ada hubungannya antara ketiga hal, yaitu tingkah laku, emosi dan pikiran kita sendiri.

Bagaimana caranya? boleh nih di apply....

☝Menyadari diri kita apa adanya, menerima segala sesuatu yang ada pada diri kita apa adanya.

☝Cek akar masalah yang sedang kita hadapi.

☝Menyusun ulang cara berpikir kita, mengganti pikiran-pikiran yang maladaptif dengan menciptakan pikiran-pikiran yang lebih sehat.

☝Nikmati saja setiap waktu yang kita miliki, Jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Seperti halnya berkendara di malam hari, sejauh apapun tujuan kita, kita hanya bisa melihat beberapa meter ke depan.

☝Lakukan hal-hal terbaik sesuai dengan ilmu yang kita kuasai dan siap melewati setiap episode kehidupan dari hari ke hari. Jadilah versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Yuk ah belajar beradaptasi dengan pola pikir kita sendiri ya dear😊

Dengan latihan sederhana merestrukturisasi kognitif atau pikiran kita sendiri, setidaknya ada upaya meminimalisir kekambuhan pemikiran-pemikiran yang irasional atau bahkan maladptif.

Gak ada kata terlambat kok untuk mengubah sesuatu hal yang dianggap toxic atau destruktif menjadi pikiran-pikiran yang lebih positif dan konstruktifπŸ’ͺπŸ’­ 



Tentang Berpikir

Dalam hidup ini pasti ada seseorang yang sedang dalam titik terendah hidupnya, nggak perlu kita ingatkan dia tentang hal itu, karena dia pasti sudah tahu.

Yang harus kita lakukan adalah memberi tahu tentang kebaikan yang ada pada dirinya, serta potensi yang kita lihat ada padanya.

Karena yang dia butuhkan dari orang lain adalah keyakinan bahwa hidupnya akan lebih baik.

Mari kita mulai menyusun ulang cara berpikir kita diawali dari diri sendiri kemudian pada orang-orang terdekat kita.😊

Yukk semangat ya, menyusun ulang cara berpikir kita, dear! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Komentar

  1. Duh, bener banget, nih, Mba Husna kudu pinter mengelola tingkah laku, emosi dan pikiran. Thanks for sharing mba.

    BalasHapus
  2. setuju mbak, terkadang sulit mengembangkan pola pikir apalagi merubahnya gak segampang itu, positive thinking harus direalisasikan ya mbak, seep. Thank ya mbak, bermanfaat bgt ni.

    BalasHapus
  3. bener nich mbak, aq setuju banget.. kita harus bisa mengelola pikiran kita ya mbak.. thank infonya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai dengan Innerchild

               Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan atau menyedihkan sering kita mendengar kalimat...."biarlah waktu yang akan menyembuhkan". Betulkah demikian?  Waktu hanya mampu berlalu dan tak kuasa mengubah aku, kamu dan kondisi seseorang. Sejatinya perubahan hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang hidup. Meskipun waktu bisa berjalan namun tidak ditugaskan untuk melakukan perubahan. Jangan menyerahkan nasib kepada waktu. Jangan berharap waktu akan menyembuhkan segalanya. Jangan menunggu waktu sebab waktu tak pernah menunggu siapapun. Waktu tak punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah manusia, apalagi sebagai obat penyembuh luka. Waktu hanya bisa berlalu begitu saja dan menjadi saksi bisu pada perubahan yang selalu ada. Itulah mengapa masih banyak luka yang tak sembuh seiring berjalannya waktu. Begitupun kondisi yang tak kunjung berubah, padahal waktu telah berjalan dalam hitungan ribuan detik. Boleh jadi, luka-luka kita di masa lalu disebabkan

Coping Stress dengan Menonton Film, Why Not?

                                                                     Ilustrasi menonton film (www.freepik.com) Mungkin terdengar sedikit aneh. Kenapa menonton film dapat menjadi salah satu upaya penanggulangan stres (coping stress). Baiklah, saya coba untuk mengulas sedikit tentang ini. Stres banyak diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak menyenangkan dan menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada orang tersebut. Kondisi yang dirasakan tentu tidak menyenangkan, karena ada perubahan dan tuntutan kehidupan dimana tuntutan tersebut dianggap sebagai beban yang melebihi kemampuan baik secara mental, fisik, emosional maupun spiritual. Sumber stres dapat berasal dari diri sendiri, keluarga maupun komunitas atau lingkungan. Reaksi stres yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti yang ditunjukkan di bawah ini: a. Gejala fisiologis; seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit punggung, leher tegang, tekanan darah tinggi, kelelahan,

Mengapa Harus Pura-Pura Bahagia

Berpura-pura kerap kali dimaknai dengan sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang dari persepsi yang lain, berpura-pura dianggap menimbulkan tindakan yang positif, seakan memang sangat diperlukan. Betulkah demikian? Yuk kita bahas. "Am I okay?" Hehehe. Belum tentu yang kita lihat di luar adalah benar-benar cerminan apa yang di dalam. Terkadang manusia pura-pura merasa bahagia karna tidak ingin terlihat lemah karna yang orang lain tahu bahwa kita ini kuat. Kapan terakhir kali kita merasa bahagia? Yaa benar-benar bahagia, bukan kita yang harus merasa bahagia...Cukup lama mungkin jawabannya. Menurut pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha Rehulina, kondisi berpura-pura bahagia ini populer dinamakan Duck syndrome . Menampilkan diri seperti bebek (duck),  di atas permukaan air terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Orang yang berpura-pura bahagia berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perju