Langsung ke konten utama

Berdamai dengan Innerchild

            

Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan atau menyedihkan sering kita mendengar kalimat...."biarlah waktu yang akan menyembuhkan".

Betulkah demikian? 

Waktu hanya mampu berlalu dan tak kuasa mengubah aku, kamu dan kondisi seseorang. Sejatinya perubahan hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang hidup. Meskipun waktu bisa berjalan namun tidak ditugaskan untuk melakukan perubahan.

Jangan menyerahkan nasib kepada waktu. Jangan berharap waktu akan menyembuhkan segalanya. Jangan menunggu waktu sebab waktu tak pernah menunggu siapapun.

Waktu tak punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah manusia, apalagi sebagai obat penyembuh luka. Waktu hanya bisa berlalu begitu saja dan menjadi saksi bisu pada perubahan yang selalu ada.

Itulah mengapa masih banyak luka yang tak sembuh seiring berjalannya waktu. Begitupun kondisi yang tak kunjung berubah, padahal waktu telah berjalan dalam hitungan ribuan detik.

Boleh jadi, luka-luka kita di masa lalu disebabkan oleh innerchild atau sosok anak kecil yang ada di dalam diri kita, atau bisa juga disebabkan oleh luka pengasuhan di masa kecil. Setiap individu pasti memiliki innerchild. Namun innerchild apa yang lebih dominan pada diri kita sehingga mempengaruhi kepribadian di masa kini.

Yuk, sebelum kita bahas lebih dalam, tentu ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan Innerchild.

Innerchild adalah istilah yang netral dan bebas nilai. Innerchild tidak selamanya negatif dan terkadang dibutuhkan saat mengasuh anak. Innerchild akan bernilai positif atau negatif ketika disematkan sebagai wounded innerchild atau happy innerchild. Setiap orang memiliki innerchild

Menurut Eric Berne, salah seorang pengusung psikologi humanistik, menekankan bahwa relasi interpersonal itu memegang peranan penting dan berdampak psikologis pada kepribadian seseorang. Setiap individu memiliki mini personality. Ada satu paket yang berisi perilaku, pikiran dan perasaan yang membentuk kepribadian seseorang (Ego State). Ego State orang yang dewasa sesuai kalender masehi berusia 21 tahun ke atas memiliki tiga sisi : 

  • Child ego state (ada mini personality yang merupakan sosok anak kecil). Child ego state ini bila di-breakdown lagi ada tiga jenis : pertama, free/happy innerchild, sosok dewasa yang memiliki sisi enerjik, happy, antusias, penuh imajinasi dan orientasi kesenangan. Sisi anak kecil yang happy dan semu emosi dominan positif. Kedua, adaptive innerchild, sisi dari diri kita yang berusaha menyelaraskan dengan berbagai aturan, perangkat sosial, perangkat norma baik sosial maupun agama. Ketiga, maladaptive/wounded innerchild, dalam diri sosok yang dewasa terdapat sisi anak kecil yang terluka, baik menyimpan kesedihan, ketakutan atau kemarahan yang luar biasa. Innerchild inilah yang mengganggu proses kedewasaan seseorang menjadi dewasa yang penuh dan utuh.
  • Adult ego state (ada sisi dewasa di dalam diri kita), ada sisi dewasa kita yang berorientasi pada kenyataan, objektivitas, hal-hal yang berbau rasio, nalar, berbagai perilaku berdasarkan pertimbangan, perhitungan dan ada tanggung jawab.
  • Parent ego state (setiap diri kita ada sisi orang tua). Parent ego state ini jika di-breakdown ada dua jenis : pertama, critical parent, sisi orang tua yang banyak menghukum, menyalahkan, mengkritik, akhirnya bisa menyakiti dan penuh agresi baik fisik maupun verbal. Kedua, nurturance parent, sisi orang tua yang banyak menggunakan afeksi, melindungi, mengayomi, merawat, mendidik dan hal-hal sejenisnya.
Berdamailah dengan Innerchild. Tak dapat dipungkiri setiap kita punya innerchild ini, namun dominan yang mana dari ketiga sisi tersebut. Disebut individu yang dewasa penuh dan utuh ketika mampu menyeimbangkan sesuai konteks dan fleksibel memainkan peran masing-masing.

Sometimes, kita butuh mengeluarkan sisi free innerchild  yang happy di saat-saat tertentu. Di sisi lain kita juga perlu menjadi  adult yang mampu berpikir rasional dan objektif, atau sisi parent yang mengayomi, mendidik, melindungi, menyayangi namun dengan prosentase critical parent. Misal marah kepada anak tapi yang edukatif bukan yang destruktif.

Sehingga sisi innerchild yang kita miliki ini, kita sadari, kita terima lalu kita olah untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih produktif dan lebih positif.

Bagaimana cara berdamai dengan innerchild yang terluka?

  • Self help, cara-cara pemulihan dan pengobatan diri dengan diri sendiri. Ada konsep 4A, yaitu Awareness, kita benar- benar menyadari bahwa luka masa kecil kita yang mana dan belum  selesai. Kita akui bahwa masih ada sesuatu dan hal-hal di masa lalu yang menyakitkan, membekas dan mengganggu masa kini kita. Kemudian Accept, kita menerima bahwa kita mengalami luka momen tersebut dengan berbagai macam emosinya, takut, sedih, marah. Itu semua kita terima terlebih dahulu. Selanjutnya adalah Allow, kita mengijinkan diri kita untuk mengurus dan menguras luka-luka tersebut agar tidak menjadi sampah emosi. Salah satu caranya bisa dengan menulis, banyak masalah sedikit banyak terbantu karna menulis, mengeluarkan "unek-unek" yang dirasa tidak beres tersebut atau istilah kerennya writing is healing (baca juga : https://www.lokasaga.com/2022/04/writing-is-healing.html). Dan yang terakhir adalah Away, kita melepaskan luka-luka yang ada dengan penuh kesadaran, penerimaan dan kemauan atas ijin dari diri kita sendiri bukan karna paksaan dari pihak luar. Keempat tahapan ini harus dilakukan secara urut dan tidak efektif bila dilakukan secara acak atau lompat.
  • Profesional help, bila self help belum membantu tentu kita harus berlapang hati meminta bantuan kepada orang lebih yang kompeten, karna ini adalah salah satu ciri orang yang dewasa. Disaat kita telah merawat secara mandiri tapi luka yang ada belum juga tuntas. Jangan sekali-kali melakukan self diagnosis dengan hanya bermodalkan informasi media sosial semata. Bantuan profesional lah yang akan menjawab masalah kesehatan mental (mental health). Ada konselor psikologi, psikolog maupun psikiater.
Dari penjelasan di atas, sebetulnya yang perlu diwaspadai adalah maladaptive atau wounded innerchild.

Mengapa demikian? Sebab innerchild yang terluka/menyimpang ini dapat menyumbang gangguan kepribadian kita di masa kini bila belum tuntas untuk diselesaikan. Mungkin ada unfinished business issue yang belum selesai.

Sedangkan kepribadian itu sendiri sangat diwarnai oleh tiga masa yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Misalnya narsisistik yang selalu berorientasi pada "aku" tentu akan sangat berpengaruh pada  hubungan yang berjangka panjang terutama intimate relationship. Ada egosentris yang belum selesai. Seharusnya egosentris tersebut tuntas di usia tujuh tahun awal seseorang. Semestinya dia kenyang perhatian, kenyang pengakuan, kenyang pujian dan kenyang kasih sayang. Kebutuhan dasar psikologis inilah yang belum terpenuhi (malnutrisi) sehingga muncul pribadi yang berorientasi ke "aku" (egosentris/narsisistik).

Adalah investasi yang sangat merugikan ketika maladaptive innerchild ini tidak kita sadari dan berimbas ke kehidupan kita di masa kini, baik profesional, marital atau saat kita menjadi orang tua bagi anak-anak kita. Bagaimanapun kesehatan mental anak itu sangat dipengaruhi oleh kesehatan mental orang tua. Kehidupan emosi anak pun juga sangat dipengaruhi oleh kehidupan emosi orang tuanya serta kualitas anger management (baca juga : https://www.lokasaga.com/2021/12/mengelola-marah.html). 

Sangatlah tidak mungkin emosi-emosi destruktif yang diturunkan akan menghasilkan hal-hal yang positif. Jemputlah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan literasi emosi sebagai preventif.

Menjadi PR (Pekerjaan Rumah) yang besar jika kita ingin mewariskan kualitas kesehatan mental yang baik kepada anak-anak namun tanpa memahami ilmunya. Mempelajari literasi emosi adalah cara yang utama untuk menumbuhkan kebaikan kehidupan emosi anak dan mencegah lahirnya emosi-emosi yang destruktif. Tidak ada kata terlambat untuk belajar ilmu literasi emosi (baca juga : https://www.lokasaga.com/2022/10/berkenalan-dengan-literasi-emosi-yuk.html ).

Adapun langkah kuratif (penyembuhan) ketika orang tua terlanjur melukai mental anak adalah dengan membasuh luka pengasuhan. Caranya dengan self forgiveness, banyak melakukan bahasa cinta kepada anak dengan pelukan, do'a, sentuhan fisik dan berbagi hal-hal positif. 

Tali kasih sayang terbesar makhluk Tuhan hanya antara orang tua dan anak tidak bisa diwakilkan oleh gadget, teman atau bahkan sosok nenek/kakek sekalipun. Bila kita merunduk dan mendekat penuh empati ke anak maka terbayarlah hutang luka pengasuhan tersebut. Tak cukup modal niat semata namun mutlak bermodal ilmu, baik ilmu parenting, literasi emosi maupun anger management.

Aspek terakhir yang tak kalah pentingnya adalah kompak bersama pasangan ketika kita ingin membasuh luka pengasuhan ke anak-anak kita. Yaitu membayar hutang pengasuhan kepada anak-anak kita. Cek bagaimana kualitas hubungan dan komunikasi bersama pasangan. Bila ternyata bermasalah maka sama halnya kita memberikan atmosfir penuh toxic pada kehidupan dan kesejahteraan mental anak kita.

Last but not least, program mendekat kepada Allah. Silakan mendekat kepada Yang Maha Kuasa apapun agamanya. Sebab tak ada usaha penyesalan dan pertaubatan orang tua tanpa melibatkan usaha mendekat kepada Sang Pemilik Hidup, yang mengatur semua takdir dan ketetapan kita.

Jadi, masalah isu innerchild dalam konsep psikologi adalah dinamika intrapersonal bukan dinamika interpersonal. Fokus saja ke diri kita, benahi dan tuntaskan diri kita terlebih dahulu. Itulah circle of control kita sendiri. Berbagai upaya self healing selalu bertumpu pada bagaimana mengubah respon diri kita terhadap orang lain, bukan sebaliknya. Dengan respon yang jauh lebih positif dan jauh lebih berdaya. 

Ketika kita sudah nyaman menerima diri kita sendiri maka secara otomatis kita memiliki kekebalan mental yang tak mudah oleng akibat respon orang lain terhadap kita. Tak dipungkiri memang maladaptive innerchild  karna luka pengasuhan mewariskan pribadi yang rapuh di masa kini. Kita butuh vaksin mental yang dapat diperoleh dari upaya kita berdamai mencintai diri sendiri (self love). 

Ciri kedewasaan/kematangan sosial seseorang adalah tidak berharap untuk dicintai, disukai atau disayangi oleh semua orang. Karna orang lain itu beragam dan berbeda, tidak semua orang harus menyukai dan menerima diri kita. Ini fakta dan sering terjadi di kehidupan kita. It's oke! Bukan masalah.

Mari geser mindset kita tentang low self worth (harga diri yang rendah). Lakukan Reparenting, mengasuh ulang kembali dengan cara memenuhi tangki cinta kita. Lakukan self love. Bahwa sosok pertama yang dapat memberikan cinta adalah diri kita sendiri. Apapun yang terjadi dalam setiap episode kehidupan, diri kita tetaplah berharga. Apapun yang terjadi di dunia ini harus ada satu orang yang peduli dengan kita yaitu diri kita sendiri.

Tak ada kedamaian sejati ketika kita masih menyimpan marah dan sakit hati pada orang tua. Bisa jadi orang tua memiliki andil dalam memberi luka  pengasuhan namun pemulihan luka adalah sepenuhnya tanggung jawab kita sebagai orang yang dewasa. Belajar memaafkan dan tetap birrul walidain (berbakti kepada orang tua). 

Yuk kita jalin hubungan yang harmonis dengan diri kita sendiri. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Berdamailah dengan Innerchild. Mari sehat mental bersama dan bersinergišŸ˜Š.


                                                        



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coping Stress dengan Menonton Film, Why Not?

                                                                     Ilustrasi menonton film (www.freepik.com) Mungkin terdengar sedikit aneh. Kenapa menonton film dapat menjadi salah satu upaya penanggulangan stres (coping stress). Baiklah, saya coba untuk mengulas sedikit tentang ini. Stres banyak diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak menyenangkan dan menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada orang tersebut. Kondisi yang dirasakan tentu tidak menyenangkan, karena ada perubahan dan tuntutan kehidupan dimana tuntutan tersebut dianggap sebagai beban yang melebihi kemampuan baik secara mental, fisik, emosional maupun spiritual. Sumber stres dapat berasal dari diri sendiri, keluarga maupun komunitas atau lingkungan. Reaksi stres yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti yang ditunjukkan di bawah ini: a. Gejala fisiologis; seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit punggung, leher tegang, tekanan darah tinggi, kelelahan,

Mengapa Harus Pura-Pura Bahagia

Berpura-pura kerap kali dimaknai dengan sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang dari persepsi yang lain, berpura-pura dianggap menimbulkan tindakan yang positif, seakan memang sangat diperlukan. Betulkah demikian? Yuk kita bahas. "Am I okay?" Hehehe. Belum tentu yang kita lihat di luar adalah benar-benar cerminan apa yang di dalam. Terkadang manusia pura-pura merasa bahagia karna tidak ingin terlihat lemah karna yang orang lain tahu bahwa kita ini kuat. Kapan terakhir kali kita merasa bahagia? Yaa benar-benar bahagia, bukan kita yang harus merasa bahagia...Cukup lama mungkin jawabannya. Menurut pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha Rehulina, kondisi berpura-pura bahagia ini populer dinamakan Duck syndrome . Menampilkan diri seperti bebek (duck),  di atas permukaan air terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Orang yang berpura-pura bahagia berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perju